Re-write: Mengapa Kita Twitteran?

Angka menunjukkan, Twitter sudah merasuk begitu dalam di kehidupan manusia di dunia maya. Lebih dari 145 juta akun terbentuk di seluruh dunia hingga Juli 2010. Di Indonesia, menurut Comscore, 20,8% pengguna Internet menggunakan Twitter per Juni 2010. Masih menurut lembaga riset itu, Indonesia adalah negara dengan penetrasi Twitter terbesar di dunia. Yang menarik, seringkali kata kunci asal Indonesia yang menjadi trending topics (topik yang paling banyak diperbincangkan di seluruh dunia) di Twitter. Fakta ini menunjukkan, pengguna Twitter Indonesia tergolong aktif di Twitter. Angka memang penting. Tapi motivasi menggunakan Twitter jauh lebih menarik buat saya. Pagi tadi saya mencoba menanyakan ke mereka, para pengguna, bukan marketer, secara langsung di Twitter: @Nukman: Mengapa kita menggunakan Twitter? Pertanyaan ini sering muncul saat melihat pertumbuhannya dan keceriwisan kita di Twitter.

Bantu jawab ya Saya mendapat puluhan jawaban menarik seketika, dan sore ini saya simpulkan beberapa hal di bawah ini:

1. Sederhana. Sesederhana mengirim SMS. Hanya mengetik maksimal 140 karakter. Tidak sesulit blog yang harus menulis beberapa alenea. “Tidak perlu lama menulis seperti blog ‘normal’, kata Goklas Tambunan. Di blog, 140 karakter hanya menjadi judul. Ini adaptasi mudah dari kebiasaan ber-sms-ria. Twitter juga tidak serumit social media lainseperti Facebook yang amat kaya fitur.

2. Medium eksistensi. Twitter memenuhi hasrat penggunanya untuk eksis dan diakui pengguna Twitter lain. Seperti disampaikan Ekky Rezky: ”Ingin eksis, biar dilihat orang juga.” Bagi Firdiyanti, Twitter adalah representasi masusia sebagai mahluk sosial. “Orang yang pendiam sekalipun punya pengalaman yang ingin dia bagi ke orang lain via Twitter.” Hal ini juga yang kemudian mengilhami beberapa penggunanya untuk memanfaatkan Twitter sebagai sarana personal branding.

3. Mendapatkan informasi yang lebih segar. Media massa sudah mengadopsi Twitter. Cukup dengan men-follow akun Twitter media tersebut, berita terbaru langsung hadir di layar Twitter kita, tanpa harus datang ke situs beritanya. Jika tertarik dengan judul yang disajikan di garis waktu (time-line), baru kita mengklik tautannya dan masuk ke situs media tersebut. Selain itu, banyak hal-hal baru, aktual, yang disebarkan oleh pengguna Twitter, yang luput atau terlambat dimuat media. Twitter menjadi media tak resmi. “Bisa mendapatkan informasi dari narasumber yang valid sekaligus bisa berinteraksi langsung dengan mereka,” kata Andre Manuhutu. “Dengan Twitter saya bisa mendapatkan buanyak rangkuman kejadian aktual, tanpa harus banyak baca halaman berita,” kata Yuliadi Syarief. Namun, tetap harus waspada di Twitter, terutama soal akurasi. Ini bisa dimaklumi, pengguna Twitter bukan jurnalis yang terlatih menulis fakta. Apalagi, sebagian dari mereka, “Cenderung menyempaikan opini ketimbang fakta,” kata Tomi Satryatomo.

4. Mendapat ilmu. Banyak pengguna Twitter yang pintar dan suka berbagi. Tanpa menuntut bayaran, mereka berbagi ilmu dengan cara masing-masing. Ada yang twit disertai blog. Ada yang suka memberikan kultwit alias kuliah via Twitter yang amat panjang. “Interaksinya dahsyat, medium “bertemu” orang-orang hebat hingga yang bejat, tinggal pintar-pintar memetik manfaat,” kata Nenden Novianti. Atau seperti yang dibilang Neng Ratna, anak SMA yang rajin twitteran, “bisa ‘mencolong’ ilmu orang-orang sukses.”

5. Berkomunikasi secara egaliter. Di Twitter, baik yang men-follow maupun yang di-follow punya kedudukan setara, meski secara pendidikan, jabatan, umur bisa saja berbeda. Begitu kita menyukai kualitas tweet seseorang kita bisa men-follow-nya. Tatkala kita tidak menyukainya, kita dengan mudah men-unfollow-nya. “Di Twitter pun kita bisa berkomunikasi dengan bebas. “Di Twitter tidak ada “saya siapa” dan ’Anda siapa’. Bebas beropini,” kata Anto Nugroho. Bahkan, seperti kata Andang Setiadi, “Twitter memperlancar komunikasi dengan orang-orang penting yang kadangkala susah ditemui secara fisik.” Dengan semakin banyaknya menteri, politikus, seleb, petinggi perusahaan dan orang penting lainnya di Twitter, semakin mudah masyarakat, dengan latar belakang apapun, berkomunikasi dengan mereka secara egaliter. Beberapa hal di atas, dirangkum Masova (Bisri Mustova), bahwa Twitter menjadi sangat menarik karena manfaatnya sebagai medium “Informasi, edukasi dan komunikasi..” Buat saya sendiri, lima hal di atas menunjukkan bahwa Twitter memang sangat manusiawi. Karena sangat manusiawi itulah, kita bergembira ria twitteran seolah tanpa mengenal lelah.

Sumber : swa-online.com

ditulis oleh Nukman Luthfie

Advertisement

~ by adinugrahas on September 16, 2010.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.